Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial
Profil
· Sekretariat
· Kessos Anak
· Yansos Lanjut Usia
· Rehsos ODK
· Rehsos Tuna Sosial
· Rehsos KP Napza

Menu Utama
· Depan
· Arsip Berita
· Database
· Downloads
· Gallery
· Kirim Berita
· Kontak Kami
· Rekomendasikan
· Top 10
· Web Links

Pencarian



Login
Nama Login

Password

Kode Security: Kode Security
Masukan Kode Security

Daftar
Lupa Password.

Profil

Rehsos KP Napza
Sekilas Tentang Korban Penyalahgunaan NAPZA



Permasalahan narkoba saat ini telah membahayakan kelompok remaja, antara lain: terlihat dari tingginya angka kematian; komplikasi penyakit yang ditimbulkannya, seperti overdosis, penularan virus HIV/Hepatitis C, meningkatnya angka kriminalitas, serta rusaknya generasi muda dan kehancuran keluarga. Indonesia saat ini tidak hanya menjadi daerah pemasaran gelap narkoba tapi juga sebagai daerah produsen narkoba. Sebagian besar korban penyalahgunaan narkoba berusia 15 sampai dengan 25 tahun. Jumlah kasus penyalahgunaan narkoba yang terlaporkan terus meningkat. Pada tahun 1999 berjumlah 1.833 kasus, tahun 2000 berjumlah 3.478 kasus dan pada tahun 2001 berjumlah 3.617 kasus (sumber data Badan Narkotika Nasional), sedangkan menurut data Pusdatin Kesos Tahun 2002 jumlah korban penyalahgunaan Narkoba tercatat sebanyak 23.660 orang. Fakta yang paling memprihatinkan adalah semakin banyaknya remaja yang memulai perkenalannya dengan narkoba pada usia yang sangat muda, yaitu : menghisap rokok pada usia 6 tahun dan menggunakan obat obat-obatan / heroin / narkoba jenis lain pada usia 10 tahun. Hal lain yang juga perlu mendapat perhatian yang serius adalah semakin meningkatnya populasi penderita HIV/AIDS di kalangan pecandu, narkoba dengan cara suntikan (IDU). Penyalahgunaan Narkoba melalui jarum suntik saat ini telah "menjadi pilihan" yang diminati di kalangan pengguna narkoba, dimana pengguna narkoba menganggap menghisap atau menghirup narkoba sebagai hal yang tidak ekonomis karena sebagian besar narkoba terbuang per*****a menjadi asap. Inilah alasan utama mengapa pengguna narkoba beralih ke penyuntikan. Menurut laporan saat ini ada 50 % - 78 %  pengguna narkoba jarum suntikan adalah pengidap HIV (Djauhari dan Djoerban, 2002).


Pada tahun 2003 diperkirakan jumlah orang yang terinfeksi HIV/AIDS antara 90.000 -130.000. Jumlah tersebut sebenarnya jauh lebih kecil dari prevalensi sesungguhnya, karena adanya fenomena gunung es. Selanjutnya perkiraan jumlah penderita AIDS di Indonesia di tahun 2010 adalah 100.000 dengan pengidap HIV sebanyak 1.000.000 orang, kecuali apabila dilakukan tindakan pencegahan secara serius (Depkes,Maret2002). Berbagai upaya telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat (Orsos / LSM) dalam penanganan korban narkoba mulai dari pendekatan medis, sosial, religi, alternatif dan lain-lain. Departemen Sosial cq Direktorat Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Korban Napza mulai tahun 2001 mengembangkan penanganan bagi korban narkoba melalui pendekatan terpadu (One Stop Centre) dimana dalam proses penanganan dilakukan secara komprehensif mulai dari tahap detoksifikasi, rehabilitasi sosial, resosialisasi dan pembinaan lanjut. Hambatan fungsi sosial yang dialami Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial mengakibatkan mereka mengalami kesulitan dalam memperoleh akses terhadap sistem pelayanan sosial dasar atau pelayanan publik lainnya, sehingga tidak dapat mencapai taraf kualitas hidup dan kesejahteraan yang memadai. Kenyataan demikian menunjukkan ada sebagian warga negara yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka secara mandiri karena kondisi mereka yang mengalami hambatan fungsi sosial, sehingga mengalami kesulitan dalam mengakses sistem pelayanan sosial dasar atau tidak dapat menikmati kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. Bagi mereka tersebut diperlukan langkah-langkah perlindungan sosial yang khusus (special protection measures) dalam bentuk pemberian pelayanan sosial dasar dan rehabilitasi sosial; sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban negara (state obligation) dalam menjamin terpenuhinya hak dasar dasar warganya yang tidak mampu, miskin atau marginal.

Tantangan yang dihadapi pada masa yang akan datang yaitu perkembangan masalah sosial (seperti ketunasosialan, penyalahgunaan NAPZA, keterlantaran, dan kecacatan) akibat dari memudarnya tanggung jawab keluarga, kemiskinan, kondisi krisis dan bencana sosial ; membutuhkan penanganan secara komprehensif dan menyeluruh. Jika tidak ditangani secara serius dalam bentuk upaya pelayanan dan rehabilitasi sosial ; maka dampak sosial yang akan terjadi yaitu disfungsi sosial, penyimpangan perilaku, kerawanan sosial dan tindak kejahatan yang akhirnya menjadi beban sosial masyarakat dan pemerintah serta membutuhkan biaya pelayanan kesejahteraan sosial yang lebih besar. Oleh karena itu pelayanan dan rehabilitasi sosial sosial ditujukan untuk meningkatkan fungsi sosial anak, keluarga dan komunitas agar aksesibilitas terhadap pelayanan sosial dasar dapat diperoleh atau ditingkatkan, sehingga kualitas hidup dan taraf kesejahteraannya dapat semakin meningkat, yang pada akhirnya dapat mencegah depresiasi kualitas sumber daya manusia pada generasi selanjutnya.

Tantangan lain dalam penanganan masalah kesejahteraan sosial adalah terbatasnya sumber-sumber yang ada pada Pemerintah sehingga perlu didukung dengan peran aktif, kepedulian dan kemampuan masyarakat dalam pelayanan kesejahteraan sosial secara melembaga dan berkelanjutan dalam situasi dan iklim yang konstruktif, sehingga dapat memberi rasa aman bagi kehidupan masyarakat dan ketahanan sosial masyarakat dapat dipertahankan. Paradigma pembangunan yang mengedepankan peran aktif masyarakat perlu dijabarkan dengan menggali, mempertahankan dan mengembangkan modal sosial. Nilai - nilai budaya yang dapat merekat persatuan dan kesatuan, kesetiakawanan sosial, gotong royong, harus dioptimalkan sebagai modal dasar menciptakan ketahanan sosial masyarakat.









[ Kembali ]