Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial
Profil
· Sekretariat
· Kessos Anak
· Yansos Lanjut Usia
· Rehsos ODK
· Rehsos Tuna Sosial
· Rehsos KP Napza

Menu Utama
· Depan
· Arsip Berita
· Database
· Downloads
· Gallery
· Kirim Berita
· Kontak Kami
· Rekomendasikan
· Top 10
· Web Links

Pencarian



Login
Nama Login

Password

Kode Security: Kode Security
Masukan Kode Security

Daftar
Lupa Password.

TAHUN 2020 JUMLAH TUNA NETRA DUNIA MENJADI 2X LIPAT
Dipublikasikan oleh DjunaidAbdillah - Pada Selasa, 09 November 2010

Oleh : Djunaedi, S.Pd.I
Penyuluh Sosial pada Panti Sosial Bina Netra Tumou Tou Manado

Badan kesehatan dunia WHO merillis data bahwa setidaknya ada 40 – 45 juta penderita kebutaan (cacat netra)/gangguan penglihatan. Pertahunnya tak kurang dari 7 juta orang mengalami kebutaan atau permenitnya terdapat satu pentuduk bumi menjadi buta dan perorang mengalami kebutaan perduabelas menit dan ironisnya, lagi-lagi wilayah dan negara miskinlah yang kebanyakan penduduknya mengalami kebutaan dan gangguan penglihatan, yaitu sekitar 90%.

Dan jika kondisi ini dibiarkan tanpa aksi yang nyata maka WHO memperhitungkan pada tahun 2020 mendatang, kelak jumlah penduduk dunia yang buta akan mencapai 2 kali lipat, kira-kira 80 – 90 juta orang.

Melalui peringatan World Sight Day yang jatuh tanggal 14 Oktober baru lalu WHO mencanangkan tema Count Down 2020 menjadi tonggak harapan dan cita-cita organisasi internasional itu untuk mengupayakan penduduk dunia dapat terhindar dari masalah kebutaan dan gangguan penglihatan serta memperoleh penglihatan yang optimal.

Hak untuk melihat secara optimal tanpa gangguan penglihatan adalah Hak Asasi Manusia yang harus dijamin dan sejalan dengan Delaration of Human Right. Maka dari itulah berdasarkan fakta yang memperlihatkan bahwa 75% kebutaan termasuk kategori Avoidable Blindness (kebutaan yang sebenarnya dapat dihindarkan), maka muncullah program Vision 2020 : Right to Sight.

Saat ini ada Sembilan penyakit mata utama yang merupakan avoidable blindness, yakni katarak, trakom, onkosersiasis, kebutaan pada anak, kelainan tajam penglihatan, low vision, glaucoma, retinopati diabetika, dan age related macular degeneration (ARMD).

Dan Indonesia adalah salah satu dari 40 negara yang menandatangani resolusi WHA56.26, “Elimination of Avoidable Blindness” yang dihasilkan dari komitmen kuat Negara-negara peserta World Health Assembly ke-56 yang berlangsung tahun 2003 silam, menuju Vision 2020.

Kasus Indonesia

Survey Indra Penglihatan dan Pendengaran tahun 1993 – 1996 menunjukkan angka kebutaan di Indonesia 1,5%-paling tinggi di Asia - dibandingkan dengan Bangladesh 1%, India 0,7%, dan Thailand 0,3%. Artinya jika ada 12 penduduk dunia buta dalam setiap 1 jam, empat di antaranya berasal dari Asia Tenggara dan dipastikan 1 orangnya dari Indonesia. Survey ini juga diaminkan oleh Direktur Jenderal Bina Kesmas Kementerian Kesehatan RI, Budihardja. Kebutaan pada usia senja yang rentan terkena katarak sebagai penyebab 75% kebutaan, kini menjadi ancaman yang pelik bagi negera kita. Biro Pusat Statistik melaporkan bahwa pada tahun 2025 penduduk usia lanjut meningkat menjadi 414 % dibandingkan dengan tahun 1990. Dan masyarakat Indonesia berkecenderungan menderita 15 tahun lebih cepat dibandingkan penderita di daerah subtropis.

Tapi bagi penduduk dengan usia relatife muda tidak bisa terlalu gembira mengingat data yang disuguhkan oleh Hellen Keller Internasional cukup mengkhawatirkan. Dalam laporannya disebutkan bahwa di beberapa daerah kumuh perkotaan yang tersebar di wilayah Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta tahun 1998 menunjukkan hampir 10 juta balita mengalami avitominasis A. Data lain menunjukkan 10% dari 66 juta anak sekolah di Indonesia mengalami kelainan refraksi (rabun jauh) dan dimungkinkan mereka akan menjadi generasi muda Indonesia dengan kualitas hidup dan intelektual yang rendah,

Kebutaan dan gangguan penglihatan tidak hanya mengganggu produktivitas dan mobilitas, tetapi juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi bagi lingkungan, keluarga, masyarakat dan negara artinya rendahnya produktivitas orang dengan kecacatannya (tuna netra) jelas berdampak negatif kepada pendapatan (income) yang optimal dari suatu keluarga dan kemudian suatu daerah tempat tinggalnya. Mobilitas mereka yang rendah di lain pihak menjadi tanggungan orang yang melihat untuk membantu bergerak dari suatu tempat ke tempat yang lain atau dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain sehingga produktifitas orang yang melihat pun menjadi terganggu pula.


Upaya pemerintah

Kementerian kesehatan RI berupaya untuk menghapus kebutaan di Indonesia melalui program Vision 2010 : Right to Sight yang sejiwa dengan semangat Badan Kesehatan Dunia WHO. Sebelumnya mantan Presiden RI ke-5 Megawati Sukarno Putri pada tahun 2000; tepatnya tanggal 15 Februari, mencanangkan program Vision 2020 Rigt to Sight dengan target bahwa angka kebutaan tahun 2005 turun menjadi 1,2%, tahun 2010 menjadi 1% dan 0,5% di tahun 2020.

Sementara Kementerian Kesehatan RI berupaya menangani penyandang cacat netra secara klinis, Kementerian Sosial RI juga turun tangan melakukan upaya rehabilitasi atau pembinaan para penca netra supaya mereka dapat menjalani hidup mandiri tanpa tergantung orang lain dan selanjutnya dapat lebih produktif sehingga mengurangi beban keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pendirian Unit  Pelayanan Teknis khusus tuna netra  oleh Kemensos di beberapa daerah (Jawa, Sulawesi dan Bali) diharapkan mampu membantu percepatan program Visi 2010 yang dicanangkan oleh pemerintah tahun 2000 lalu. Artinya kemensos tidak dalam rangka menekan angka populasi penduduk dengan cacat netra di masa mendatang, namun lebih pada penanganan penyandang cacat netra supaya keluar dari kelompok Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial.

Ayo kita cegah kebutaan.

Pola hidup yang kurang tepat sehari-hari dalam memperlakukan mata atau menggunakan mata, berpotensi menyebabkan kelainan mata di suatu waktu. Kalau data di atas menegaskan bahwa kebutaan yang dialami penduduk dunia termasuk kategori Avoidable Blindness, berarti sejak dini semestinya kita secara pribadi atau keluarga dapat berupaya mencegah segala faktor-faktor penyebab kelainan mata.

Ada beberapa tips yang dapat dipraktekan dalam keseharian kita sebagaimana yang sering disampaikan oleh para ahli mata di berbagai mass media berformat artikel, hasil penelitian ilmiah, iklan produk kesehatan atau penyuluhan kesehatan di rumah-rumah sakit atau Puskesmas supaya kita dapat terhindar dari kesuakan mata yang permanen atau akut.

A.    Asupan

Sudah umum diketahui bahwa makanan yang mengandung vitamin A dan betakaroten sangat baik untuk kesehatan mata. Oleh karena itu bagi ibu-ibu yang baru memiliki bayi atau balita harus mengupayakan ketersediaan makanan yang kaya dengan vitamin A. Pada ikan, buah-buahan dan sayuran banyak didapati kandungan vitamin A.

Suplemen Herbal berbahan Jintan Hitam (Habbatussauda : Bhs. Arab; Nigella Sativa : Bhs. Latin) yang sangat disarankan oleh Nabi Muhammad saw empat belas abad lampau terbukti sangat kaya dengan betakaroten. Suplemen ini cukup aman dikonsumsi oleh ibu menyusui dan anak-anak.

B.    Perilaku

Kebiasaan buruk saat membaca, menonton tv atau menatap layar monitor komputer/laptop dapat menyebabkan mata akhirnya menjadi sakit. Supaya mata kita tetap sehat lakukan hal-hal berikut :
1.    Beristirahatlah selama 5 hingga 10 menit setelah kurang lebih 2 jam mata kita berlelah-lelah menatap monitor atau buku. Untuk computer jelas ada sinar radiasi yang memapar mata dengan intensitas warnanya yang tidak stabil. Saat anda istirahat alihkan pandangan ke aarah lain, syukur syukur jika ada pemandangan alam berupa hijau daun pepohonan. Berkedip-kediplah untuk melumaskan mata yang lelah. Bahkan sekarang sudah ditemukan senam mata. Caranya dengan melirik dari kanan ke kiri dan sebaliknya, dari atas ke bawah dan sebaliknya, berputar dari kanan ke kiri dan sebaliknya, serta diagonal dari kanan ke kiri dan sebaliknya, masing-masing sekitar 5 hingga 10 kali.
2.    Saat membaca buku hindari tempat yang remang-remang. Jangan membaca dalam posisi tidur terlentang atau telungkup. Jarak mata ke buku minimal 30 cm. Sebaiknya bacalah buku dengan ukuran font yang tidak terlalu kecil karena itu akan membuat kerja mata kita menjadi lebih ekstra. Dan jarak yang aman saat di depan monitor tv kurang lebih 5x diagonal layar monitor itu. Jarak 30 – 40 cm dinilai aman saat di depan monitor computer dan posisi bagian atas layar sesuai dengan ketinggian bola mata, minimal sedikit di bawah batas mata. Layar tv dan computer biasanya dilengkapi dengan pengatur pencahayaan. Aturlah cahaya monitor hingga sedang dan tidak terlalu terang atau patokannya adalah kenyamanan mata kita. Di masa kini sudah banyak produk tv dan monitor computer berjenis LCD. Jika kita memiliki dana, akan lebih baik kita gunakan monitor LCD yang memang radiasinya lebih rendah daripada monitor CRT (masih menggunakan tabung).
3.    Pencahayaan ruang baca dan ruang computer sebaiknya diatur. Di samping menggunakan lampu dengan daya yang menghasilkan cahaya terang juga letaknya sebaiknya tepat di atas kepala atau sedikit di belakang kepala kita, sehingga intensitas cahaya cukup memadai.
4.    Kontaminasi partikel debu atau kotoran pada mata kita dapat menimbulkan gangguan penglihatan bahkan dapat menyebabkan katarak mata. Bagi kita yang suka bepergian dengan menggunakan sepeda motor, apalagi di daerah perkotaan yang tingkat polusinya tinggi, gunakanlah helm standar yang dilengkapi kaca penutup. Jika hanya helm biasa, maka kenakanlah kaca mata pelindung. UU no. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mensyaratkan pengguna kendaraan bermotor untuk memakai helm bersertifikat SNI karena di samping kepala aman dari benturan terhadap berbagai benda keras, juga dapat mencegah mata dari masuknya debu jalanan. Jika sudah terlanjur terkontaminasi debu lalu terasa gatal, jangan dikucek dan segera gunakan tetes mata pembersih yang aman. Jika iritasi masih berlanjut setelah dua atau tiga kali tetes, tidak ada jalan lain kecuali harus ke dokter mata.
5.    Memeriksakan mata kita secara periodic juga turut membantu pencegahan terhadap kemungkinan resiko sakit mata. Frekuensi yang baik adalah satu kali dalam enam bulan. Unsur-unsur yang diperiksa biasanya ketajaman penglihatan dan tekanan bola mata.

Mencegah lebih baik daripada mengobati.
Kita sudah mahfum dengan slogan tersebut. Keluarga sebagai unit terkecil dari suatu bangsa harus turut andil dalam upaya pencegahan kebutaan pada taraf yang mudah dilakukan sebagaimana tips-tips di atas. Jika kita masuk dalam kelompok yang kurang suka dengah hal-hal bersifat patriotic (untuk kepentingan bangsa atau kemanusiaan), maka mencegah kelainan dan gangguan penglihatan jelas bermanfaat untuk masa depan penglihatan kita dan keluarga kita sendiri.

Namun berbahagilah orang-orang yang berjiwa patriot yang senantiasa jiwanya terpanggil untuk melakukan AKSI demi kepentingan kemanusiaan dengan hal-hal yang kecil sekalipun, dalam rangka MENCEGAH KEBUTAAN BANGSA DAN DUNIA.
Selamat memperingati World Sigth Day, Railhlah Vision 2020, Right to Sight Indonesiaku.

(Sumber data statistik : Laporan HU. Kompas edisi 2, 19, & 20 Oktober 2010)


 




 
Link Terkait
· Lebih Banyak Tentang Penyandang Cacat
· Berita oleh arantika


Berita terpopuler tentang Penyandang Cacat:
TAHUN 2020 JUMLAH TUNA NETRA DUNIA MENJADI 2X LIPAT


Nilai Berita
Rata-rata: 4
Pemilih: 2


Beri nilai berita ini:

Luar Biasa
Sangat Bagus
Bagus
Biasa
Jelek


Opsi

 Versi Cetak Versi Cetak



Re: TAHUN 2020 JUMLAH TUNA NETRA DUNIA MENJADI 2X LIPAT (Nilai: 0)
Oleh Tamu Pada Senin, 08 April 2013
Terimakasih atas informasi nya semoga memberikan banyak manfaat jaket kulit | jaket kulit garut | jaket kulit murah | jual jaket kulit | jual jaket kulit asli | jaket kulit online | grosir jaket kulit | harga jaket kulit


KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA
Copyright Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial 2011
Powered by the AutoTheme HTML Theme System
Page created in 1.045509 Seconds