Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial
Profil
· Sekretariat
· Kessos Anak
· Yansos Lanjut Usia
· Rehsos ODK
· Rehsos Tuna Sosial
· Rehsos KP Napza

Menu Utama
· Depan
· Arsip Berita
· Database
· Downloads
· Gallery
· Kirim Berita
· Kontak Kami
· Rekomendasikan
· Top 10
· Web Links

Pencarian



Login
Nama Login

Password

Kode Security: Kode Security
Masukan Kode Security

Daftar
Lupa Password.

MENJADI PENDAMPING LANSIA ITU, TUGAS MULIA
Dipublikasikan oleh Tamu - Pada Sabtu, 01 April 2017

MENJADI PENDAMPING LANSIA ITU, TUGAS MULIA


(JERRY JUNIUS TULA,SST)

Berdasarkan Data Susenas 2014, jumlah rumah tangga lansia sebanyak 16.06 juta rumah tangga atau 24,50 % dari seluruh rumah tangga di Indonesia. Rumah tangga lansia adalah yang minimal salah satu anggota rumah tangganya berumur 60 tahun ke atas. Jumlah lansia di Indonesia mencapai 20,24 juta jiwa, setara dengan 8,03% dari seluruh penduduk Indonesia tahun 2014 (BPS,BAPPENAS,2014).

“Pada tahun 2020, diperkirakan Indonesia memiliki jumlah lanjut usia 28 juta jiwa atau seperempat dari jumlah penduduk keseluruhan, peningkatan jumlah lanjut usia tersebut tentu saja berpotensi menimbulkan berbagai masalah dan berimplikasi kepada peningkatan rasio ketergantungan lanjut usia dimana setiap penduduk produktif akan menanggung semakin semakin banyak penduduk lanjut usia ,” kata Carolyne Clara E.S (Direktur Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia) pada pembukaan Bimbingan Teknis Pekerja Sosial dan Relawan Sosial Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia PSTWD dan LKS-LU di Hotel Grand Zuri (30/03/2017). Untuk mengantisipasi hal tersebut maka salah satu kebijakan yang dapat dilakukan adalah meningkatkan, mengembangkan dan memantapkan peran Pekerja Sosial dan Relawan Sosial guna meningkatkan kualitas rehabilitasi sosial lanjut usia, ujar Clara dihadapan peserta Bimbingan sebanyak 60 orang yang terdiri dari 3 orang PSTW Pusat,16 orang PSTW Daerah, 24 Orang Relawan Sosial LKS-LU, 5 orang Pekerja Sosial dari Pusat dan 12 Orang Petugas Pusat. Pada kesempatan itu juga, Sekretaris Ditjen Rehsos, Kanya Eka Santi mengatakan bahwa yang disebut dengan Pekerja Sosial adalah Profesional, yang latar pendidikannya adalah Pekerjaan Sosial seperti yang ada di STKS dan Universitas Indonesia dan yang tidak berpendidikan pekerjaan sosial disebut dengan pekerja sosial fungsional, tenaga kesejahteraan sosial,relawan sosial dan penyuluh sosial.


Pekerja Sosial dituntut dapat melakukan asesmen atau penilaian menyeluruh terhadap kebutuhan lanjut usia untuk menentukan program dan tindakan terbaik bagi lanjut usia sesuai dengan ilmu pekerjaan sosial disamping membuka jejaring atau sistem sumber bagi penanganan kasus-kasus lanjut usia, ujar Kanya. Dalam kaitannya dengan rehabilitasi sosial lanjut usia, relawan sosial memiliki peran untuk mendampingi lanjut usia yang berada dilingkungan masyarakat, lanjut Kanya.

Menjadi Pendamping Lansia itu, tugas mulia, ujar Clara. Oleh karena itu para pendamping di himbau agar pantau dan pastikan setiap lansia yang didampingi mendapatkan bantuan yang telah menjadi haknya,ciptakan strategi atau kiat supaya dapat memantau semua lansia yang didampingi, demikian antara lain disampaikan Clara kepada para peserta bimbingan. Clara juga mengharapkan agar kegitan ini dapat bermanfaat dan memberikan konstribusi dalam peningkatan kesejaheraan sosial lanjut usia. (Pengelola Kehumasan Setditjen Rehsos).




 
Link Terkait
· Lebih Banyak Tentang Organisasi Hukum dan Humas
· Berita oleh fathonah


Berita terpopuler tentang Organisasi Hukum dan Humas:
Gelandangan dan Pengemis Isu Permasalahan Sosial


Nilai Berita
Rata-rata: 0
Pemilih: 0

Beri nilai berita ini:

Luar Biasa
Sangat Bagus
Bagus
Biasa
Jelek


Opsi

 Versi Cetak Versi Cetak


KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA
Copyright Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial 2011
Powered by the AutoTheme HTML Theme System
Page created in 0.376248 Seconds